Senin, 31 Juli 2023

Pentingnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk Kampung Nelayan di Kelurahan Banjar Serasan : Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pemeliharaan Sumber Daya Perikanan

18.19 0 Comments

 

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan fasilitas yang penting bagi kampung nelayan di Banjar Serasan setelah tempat ini dicanangkan oleh Bapak Edi Kamtono selaku Walikota Kota Pontianak tahun 2021. TPI ini tidak hanya berperan sebagai tempat untuk menjual hasil tangkapan ikan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi. Peran dan manfaatnya meliputi peningkatan pendapatan nelayan, peningkatan nilai tambah dan pemasaran ikan, penciptaan lapangan kerja, pengaturan dan pengawasan penangkapan ikan, pengelolaan limbah dan lingkungan, serta edukasi dan konservasi lingkungan. Meskipun ada tantangan seperti keterbatasan sumber daya finansial dan infrastruktur yang terbatas. Upaya meningkatkan pembangunan TPI dapat dilakukan melalui dukungan pemerintah dan kebijakan yang mantap, kerjasama dengan pihak swasta dan organisasi non-pemerintah, serta pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Sekarang yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar adalah mereka tidak bisa menikmati hasil tangkapan nelayan secara maksimal karena sudah ada tempat penampungan lain dari hasil tangkapan nelayan tersebut. Masyarakat tetap saja membeli ikan segar di Pasar Flamboyan atau pasar tradisional terdekat. Ini artinya perputaran ekonomi secara finansial tidak terjadi di Masyarakat itu sendiri, padahal potensi dalam pengolahan ikan ada di Kampung Nelayan Banjar Serasan. Banyak sekali Ibu-ibu yang berjualan gorengan dan makanan yang terbuat dari olahan Ikan dan Udang yang mereka pada umumnya membeli produk Frozen Food yang tersedia di Pasar atau supermarket. Kalau produk olahan ini bisa masyarakat buat sendiri dari hasil tangkapan para nelayan dan kemudian mereka jual kembali ke masyarakat sekitar yang menjual hasil olahan tersebut makan secara ekonomi perputaran uang akan terjadi di Masyarakat itu sendiri, Dari Masyarakat dan Untuk Masyarakat.

Kenapa pada akhirnya masyarakat tak bisa secara maksimal memanfaatkan potensi yang ada ini ? Karena tidak adanya Tempat Pelelangan Ikan yang seharusnya bisa menjadi tempat transaksi antara para nelayan dengan masyarakat. Memang tidak akan mudah untuk bisa membangun infrastruktur ini. Tapi dengan pencanangan Kampung Nelayan tersebut harusnya menjadi Prioritas Pemerintah Kota Pontianak  untuk Kelurahan Banjar Serasan agar bisa menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk masyarakat.

Keberhasilan pembangunan TPI di kampung nelayan di Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya akan memberikan contoh konkret tentang bagaimana TPI dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pemeliharaan sumber daya perikanan dalam konteks lokal.

TPI ini telah berhasil dalam membangun dan mempertahankan peran strategisnya sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial bagi masyarakat nelayan setempat. Apa yang menjadikan Keberhasilan tersebut ?

1. Lokasi Strategis : TPI Sungai Raya terletak di tepi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Lokasinya yang strategis memungkinkan akses mudah bagi nelayan untuk membawa hasil tangkapan ikan mereka ke TPI. Selain itu, kehadiran sungai yang kaya akan sumber daya perikanan juga menjamin ketersediaan ikan yang melimpah di area sekitar TPI.

Tidak berbeda jauh dengan KAMPUNG NELAYAN Banjar Serasan. Terletak ditepian Sungai Kapuas, Kaya akan sumber daya perikanan.

2. Fasilitas dan Infrastruktur yang Memadai: TPI Sungai Raya dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap seperti dermaga untuk berlabuhnya perahu nelayan, tempat penyimpanan dan peremajaan ikan, ruang pelelangan, area parkir, serta kios dan warung untuk penjual ikan dan makanan. Infrastruktur yang memadai membuat proses pelelangan dan distribusi ikan menjadi lebih efisien.

3. Pengelolaan yang Profesional: TPI Sungai Raya dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dengan dukungan dan bimbingan dari pihak pemerintah daerah. TPI ini memiliki sistem administrasi dan akuntansi yang baik, serta memiliki proses pelelangan yang transparan dan adil.

4. Kemitraan dan Kerjasama dengan Pihak Swasta: TPI Sungai Raya menjalin kemitraan dengan perusahaan pengolahan ikan dan distributor untuk memastikan penjualan ikan hasil tangkapan nelayan. Melalui kerjasama ini, nelayan mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan harga jual yang menguntungkan.

5. Pendidikan dan Pelatihan: TPI Sungai Raya aktif melaksanakan program pendidikan dan pelatihan untuk nelayan, termasuk dalam hal penanganan ikan yang baik, kebersihan, kelestarian lingkungan, serta manajemen bisnis. Ini membantu nelayan dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk menghadapi persaingan dan mengelola bisnis dengan baik.

Keberhasilan TPI Sungai Raya adalah bukti nyata bahwa dengan pengelolaan yang baik, kerjasama dengan pihak terkait, serta pendidikan dan pelatihan yang terus-menerus, TPI dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan pemeliharaan sumber daya perikanan di daerah setempat.

 

Semoga KAMPUNG NELAYAN di Kelurahan BANJAR SERASAN dapat menjadi perhatian Pemerintah Kota Pontianak dalam Tahun Anggaran 2024 nanti agar Kelurahan Banjar Serasan lebih baik lagi dan lebih bersinar.

 

#TerasRumahBunda

#REST

#KAMPUNGNELAYANBANJARSERASAN

#KOLABORASI

#KOLABORAKSI

#BANJARSERASANBERSINAR

Rabu, 26 Juli 2023

Kampung Nelayan Banjar Serasan, Destinasi Wisata baru di Kota Pontianak ( InsyaAllah )

21.42 0 Comments

Bapak Walikota Edi Kamtono pada tanggal 26 Desemer 2021,  2  tahun  lalu meresmikan pemukiman yang berada di Jalan Yusuf Karim Tepian Sungai Kapuas sebagai Kampung Nelayan. Ini dikarenakan mayoritas penduduk di Tepian Sungai Kapuas ini menjalani profesi mereka sebagai Nelayan. Ada juga Keramba  atau Tambak Ikan disitu. Saat ini, sudah ada 17 Kapal dengan total nelayan ada 56 orang. Data ini bersumber dari Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Bapak Bintoro. Pemerintan juga sudah memberikan bantuan berupa Life Jacket, radio komunikasi, GPS untuk pendeteksi ikan, kotak pendingin atau cool box untuk menyimpan ikan. Bantuan ini semata-mata untuk alat-alat pendukung bagi nelayan.

2 Tahun telah berlalu dari semenjak dicanangkannya Kampung Nelayan ini, belum ada perubahan yang signifikan bagi mayarakat sekitar. Kehadiran Kampung Nelayan belum begitu berdampak bagi masyarakat, saya sendiri baru tersadar setelah adanya kegiatan pendampingan usaha oleh Badan Pertanahan Kota Pontianak di Kantor Kecamatan Pontianak Timur saat salah satu narasumber yang menjadi pembicara saat itu yaitu Bapak Edi , menyentil dengan satu kalimat “ Ternyata tidak ada apa-apa yang bisa kita lihat di Google saat kita mengetikkan di Search Engine tentang Kelurahan Banjar Serasan”. Memang benar adanya, setelah pulang ke rumah saya coba search sendiri dengan berbagai keyword  tentang Banjar Serasan. Hasilnya NIHIL. Saya coba pakai keywords Kampung Nelayan Banjar Serasan hasilnya hanya ada satu halam google berisi tidak sampai 5 artikel yang membahasnya, itupun artikelnya berkaitan dengan peresmian pencanangan Kampung Nelayan saja oleh Bapak Edi Kamtono sebagai Walikota Pontianak.  Padahal kalau dilihat secara RIIL Kelurahan Banjar Serasan memiliki banyak sekali potensi yang bisa diexplore.  Apalagi Pemerintah sudah mencanangkannya sebagai KAMPUNG NELAYAN, ini artinya akan ada Perubahan besar nantinya minimal dari ekonomi, sosial, budaya, kuiner, dan pariwisata,  tentunya potensi lain juga akan mengikuti seperti SDM, SDA nya.  Kita lihat saja dari sisi kuliner, Ada Bakso MERAHANG yang cukup terkenal disini, letaknya di Jalan Yusuf Karim juga, kalau pagi hari banyak sekali masyarakat yang memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk berjualan sarapan pagi. Menunya macam-macam, ada beberapa menu yang mungkin tidak akan ditemui di Pusat Kota. Seperti mie sagu, SOP ( bukan sayur sop ya ), mie bumbu, bubur pedas, nasi kuning, nasi uduk, pecal/gado-gado, sate dan masih banyak lagi yang lainnya. Ada kue-kue tradisional yang dijual disini, ada batang burok, roti kap, roti canai, patlau, Lemet,roti goreng, roti gendum, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kalau untuk sayuran, ada tumis pakis yang enak, sayur keladi yang khas, suyur umbut yang lezat, sayur asam pedas yang merupkan ciri khas orang tepian sungai kapuas. Banjar serasan kaya akan masakan rumahan yang enak. Masyarak disini merupakan cheft-cheft berbakat. Dari sisi seni dan budaya, ada banyak sekali mesjid yang dibangun di kawasan tembok tengah ini. Rumah saya saja dibelakang Mesjid, namanya Mesjid Baitusalam. Tidak jauh dari tempat saya tinggal  sekitar 200m ke kiri ada mesjid lagi namanya  Mesjid Al Falah, 200 M ke kanan ada mesjid  Al Huda, Suasana Religius akan terasa kental saat perayaan Hari-hari Besar Islam, belum lagi setiap memperingati Hari Jadi Kota Pontianak dan malam Takbiran akan banyak sekali meriam-meriam berdentum dengan keras sahut-sahutan dari seberang sini ke seberang sana. Tentunya akan banyak sekali potensi lain yang kalau mau di explore akan bermunculan kepermukaan. Sayangnya potensi-potesi ini tidak dikembangkan, dijaga dan dijadikan kekayaan yang bisa memajukan Kelurahan Banjar Serasan diperparah lagi tidak ada masyarakat potensial yang mau mengulas tentang Kampung Nelayan Khususnya Banjar Serasan sendiri.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk memulai membangun BRANDING KAMPUNG NELAYAN di BANJAR SERASAN biar lebih ICONIC ?

Saya memiliki ide yang mungkin bisa dikombine dengan ide-ide teman-teman semua yang memiliki kesamaan vissi dan missi yang sama tentang bagaimana membuat BANJAR SERASAN lebih BERSINAR :

1.       Memiliki Ciri Khas,

kita harus mencari terlebih dahulu apa yang menjadi ciri khas KAMPUNG NELAYAN.  Membuat KAMPUNG NELAYAN kita memiliki ciri khas yang membedakannya dari kelurahan-kelurahan lain adalah langkah penting dalam membangun reputasi sebagai tempat wisata menarik. Ciri khas ini bisa berupa jejeran Kapal nelayan yang terawat dengan baik, hasil olahan tangkapan nelayan, kerajinan tangan khas warga kampung nelayan, atau adat istiadat yang unik. Hal ini dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan dan mendorong mereka mengunjungi KAMPUNG NELAYAN di BANJAR SERASAN. Ada cara yang bisa kita lakukan untuk menggalinya yaitu dengan melakukan wawancara kepada tokoh-tokoh kampung yang paham betul dengan BANJAR SERASAN, selain wawancara kita bisa juga melakukan assessment terlebih dahulu dengan mengajak berkumpul para tokoh, pejabat di Banjar Serasan,dan Para Pemuda untuk saling menggali dan bertukar informasi tentang BANJAR SERASAN.  

2.       Potret Alam yang Indah,

Tempat  yang tenang dan asri memberikan pengalaman wisata yang berbeda dengan kota yang sibuk. Kampung Nelayan di  BANJAR SERASAN dapat menawarkan pemandangan alam yang indah seperti aliran sungai kapuas yang merupakan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

3.       Aktivitas Wisata

Keberagaman aktivitas  wisata dapat membuat BANJAR SERASAN menjadi tempat wisata menarik. Wisatawan bisa menikmati kegiatan olahraga seperti berjalan-jalan di tepian Sungai Kapuas, bersepeda, atau naik sampan warga, naik kapal terapung untuk menjelajahi atraksi wisata lokal, main Kano, main layangan ditepian sungai kan banyak pengrajin kelayang disini atau bahkan mengikuti kegiatan kebudayaan lokal seperti tarian Jepin dan musik tradisional

4.       Ketersediaan Makanan dan Akomodasi

Ketersediaan makanan dan akomodasi dapat mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih tempat wisata yang akan mereka kunjungi. Terdapat beberapa opsi untuk meningkatkan pilihan makanan dan akomodasi seperti guesthouse atau homestay untuk wisatawan yang ingin merasakan kehidupan nyata di BANJAR SERASAN atau menikmati masakan lokal yang lezat

5.       Promosi dan Pemasaran

Setelah kita mempersiapkan BANJAR SERASAN sebagai tempat wisata menarik, promosi dan pemasaran menjadi hal penting dalam memperkenalkannya ke khalayak luas. Membuat situs web yang menarik dan menyebarluaskan poster promosi, serta menggunakan media sosial adalah cara yang dapat membantu mempromosikan BANJAR SERASAN ke khalayak wisatawan potensial.

Kampung Nelayan menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dan menyenangkan. Apa pun keperluan wisata Anda, mulai dari bersantai hingga berpetualang, Kampung Nelayan siap menyambut kehadiran Anda. Selamat menikmati liburan yang menyenangkan di Kampung Nelayan, Pontianak! Tapi nanti ya mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi atau bisa jadi setelah tulisan ini saya buat Pemerintah bisa GERCEP untuk merealisasikannya. InsyaAllah

Sumber Foto : https://gencil.news/berita-kalbar/kota-pontianak/kampung-nelayan-banjar-serasan/

BI Menyelenggarakan BIMTEK Sertifikasi Halal Dalam Rangkaian Acara Saprahan Khatulistiwa 2023, Ada 17 UMKM Kelurahan Banjar Serasan Ikut Serta

00.34 0 Comments


Event tahunan Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemprov Kalbar tahun ini merupakan penyelenggaraan ketiga dengan mengusung tema Sinergi dan Akselerasi Pengembangan UMKM, Pariwisata dan Keuangan untuk mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Barat yang Inklusif dan Berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan promosi pelaku usaha dan sektor pariwisata serta apresiasi kepada UMKM yang telah lolos kurasi tingkat Kalbar bagi UMKM binaan Bank Indonesia, pemerintah daerah, Dekranasda, instansi terkait, dan perbankan.

Ada 17 UMKM Kelurahan Banjar Serasan yang merupakan pendampingan dari Badan Pertanahan Kota Pontianak juga turut serta dalam kegiatan Bimbingan Teknis Sertifikasi Halal. Peserta berasal dari seluruhan kelurahan di Kota Pontianak yang belum memiliki sertifikat Halal Produk, termasuk TERAS RUMAHBUNDA. Saya sangat antusias mengikuti Bimtek ini untuk menambah pengetahuan dan juga menambah relasi. Teras Rumah Bunda yang saya rintis, sangat membutuhkan sertifikasi HALAL ini untuk dapat meyakinkan konsumen saya terhadap kehalalan makanan yang saya jual, mulai dari bahan baku sampai kepada rempah dan bahan pendukung lainnya.  

Dalam Bimtek ini ada beberapa hal yang bisa saya tangkap dari apa yang disampaikan oleh Narasumber yaitu alur proses sertifikasi halal sudah lebih sederhana dibanding sebelumnya. Pelaku usaha dapat mendaftarkan diri melalui website halal.go.id, kemudian Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) memerikasa kelengkapan dokumen dan menetapkan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Setelah itu, LPH memeriksa dan menguji kehalalan produk. Lalu MUI akan menetapkan kehalalan produk melalui Sidang Fatwa Halal dan BPJH akan menerbitkan sertifikan halal. Pendaftaran semua dilakukan secara online.  

Kegiatan perekonomian tentunya tidak terlepas dari perkembangan dan kemajuan suatu produk. Sebagai seorang muslim yang tinggal di negara mayoritas muslim tentunya perlu memperhatikan kehalalan suatu produk, dengan berkembangnya teknologi dapat mendorong terciptanya produk-produk baru, yang membuat kita harus lebih selektif lagi dalam memilih produk halal yang sesuai dengan syariat Islam.

Tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 168 yang memiliki arti “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”  Bahwa halal itu penting, di Indonesia yang menjadi patokan kehalalan suatu produk adalah sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh BPJPH (Badan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal).

Pentingnya Memiliki Izin Halal pada Produk

Izin Halal adalah sertifikasi yang menjamin bahwa suatu produk, baik makanan maupun non-makanan, sesuai dengan aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Islam. Izin Halal menjamin bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan haram atau bahan yang diperoleh atau diproses melalui metode yang diharamkan dalam agama Islam.

Pentingnya memiliki izin halal pada produk, terutama bagi produsen makanan dan minuman, tidak dapat diabaikan. Berikut adalah alasan mengapa izin halal sangat penting yang saya kutip dari berbagai sumber :

  1. Memenuhi Kewajiban Agama: Dalam agama Islam, mengkonsumsi makanan yang halal adalah kewajiban bagi umat Muslim. Dengan memiliki izin halal, produsen memastikan bahwa produknya telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam agama Islam, sehingga umat Muslim dapat dengan yakin mengonsumsinya.
  2. Menciptakan Kepercayaan Konsumen: Izin Halal adalah tanda bahwa produk telah memenuhi standar dan ketentuan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang dalam masalah halal. Dengan memiliki izin ini, produsen dapat membangun kepercayaan konsumen dan memastikan mereka bahwa produk yang mereka beli sudah halal dan aman dikonsumsi.
  3. Membuka Peluang Pasar: Hingga saat ini, permintaan produk halal terus meningkat secara global. Dengan memiliki izin halal, produsen dapat memasuki pasar global dan meningkatkan pasar potensial bagi produk mereka. Izin halal menjadi pengakuan bahwa produk dapat dikonsumsi oleh masyarakat Muslim di seluruh dunia.
  4. Mendorong Inovasi: Untuk mendapatkan izin halal, produsen harus memastikan bahwa semua bahan dan proses produksi yang digunakan merupakan bahan dan proses yang halal. Hal ini mendorong produsen untuk melakukan inovasi dan mencari alternatif bahan yang halal, sehingga meningkatkan kualitas dan kehalalan produknya.

Pada Acara Saprahan Khatulistiwa ini, BI yang  bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memberikan fasilitas GRATIS bagi UMKM yang belum memiliki Sertifikat Halal, dengan catatan produk tidak terbuat dari Daging baik Ikan, Ayam dalam artian yang mengandung darah. Fasilitas gratis hanya untuk UMKM yang membuat makanan olahan dari tempung dan buah-buahan serta sejenisnya. Bapak Suherman selaku Narasumber menyampaikan bahwa “pemerintah menargetkan ada 10 juta sertifikat halal dari tahun 2022 s.d. 2024. Hal ini terkait dengan visi Indonesia menjadi pusat halal dunia,” jelas beliau. Pemberian Sertifiakat Halal secara gratis ini merupakan gerakan dari Proram SEHATI ( Sertifikat Halal dan Gratis ) yang dapat diakses pada situs https://ptsp.halal.go.id

Jumat, 21 Juli 2023

BPN Memberikan Perhatian Khusus Kepada Kelompok-kelompok Usaha Kecil di Banjar Serasan Dengan Kegiatan Pendampingan Kewirausahaan

02.16 0 Comments

 

Kegiatan yang dihelat pada tanggal 12 Juli 2023 bertempat di Kantor Camat Pontianak Timur ini diselenggarakan oleh Kantor Pertanahan Kota Pontianak yang diikuti kurang lebih 100 orang peserta yang berasal dari Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang memiliki usaha kecil di Kelurahan Banjar Serasan. Saya salah  satu peserta yang mengikuti kegiatan ini sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BPN yang telah memfailitasi kami dan membekali kami ilmu yang bermanfaat ini. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan pendampingan usaha dengan menghadirkan dua orang naraumber yang expert yaitu Bapak  Suwandy Djapri, B.Bit, M.IT, Hons, Cert.Tesol seorang Trainer, Mentor, Coach Wirausahawan dan Motivator  dan Bapak Edi Suprianto, SE seorang Dosen Kewirausahaan dan E-Business, Pendamping Proses Produk Halal, Fasilitator Nasional BPOM, Fasilitator Kementriaan KOMINFO RI, Pendamping UMKM dan masih banyak lagi keahlian beliau. Kegiatan ini merupakan rangkaian Program Penerima Akses Reforma Agraria dari Badan Pertanahan Kota Pontianak.

Penghangat acara dibuka olah Ko Wandy, sapaan akrab beliau dengan Membuka mindset peserta dengan motivasi positif yaitu menggiring peserta untuk bisa menjadi pengusaha hebat dan sukses. Beliau banyak menceritakan pengalaman beliau tentang rintisan usaha yang saat ini dijalankannya bersama teman-temannya yang sekarang kita mungkin familiar dengan NILA KUMPAI. Sharing pengalaman yang bisa menambah keyakinan oleh kami yang baru mau merintis usaha, bahwa tidak ada yang gak mungkin kalo diniatkan dengan sungguh-sungguh. Narasumber ke dua oleh Bapak Edy yang lebih banyak  bicara tentang Revolusi Prilaku Konsumen. Yang saat ini Pasar sudah didominasi oleh Teknologi. Produsen dan Konsumen sama-sama sudah menjadikan Teknolog Digital sebagai platform untuk bertransaksi untuk itu peserta juga harus menambah ilmu dan wawasan  dalam pergerakan ekonomi dan usahanya. Strategi Pemasaran di Era Digital ini minimal 6 prilaku yang harus diterapkan kata beliau, yaitu :

1.      1.  Fokus Pada Nilai, Fokus pada memberikan nilai tambah kepada konsumen melalui produk

2.       2. Pemasaran Melalui Medsos, Memanfaatkan kekuatan media sosial untuk mempromosikan produk

3.       3. E-Commerce, Memanfaatkan platform e-commerce untuk menjual produk secara online

4.       4. Membangun Kemitraan

5.       5. Storytelling Merek

6.       6. Pemasaran Pengalaman

Dalam acara ini, BPN juga memfasilitasi peserta yang belum memiliki kelompok-kelompok usaha. Kelompok usaha ini sangat penting untk mempercepat revitalisasi ekonomi di Banjar Serasan agar semua uni-unit usaha kecil terpantau pergerakannya dan untuk mendapatkan program dan pendampingan usaha dari pemerintah lebih mudah. Sebagai penutup acara. Bapak Edy memberikan sebuah pertanyaan yang bisa membangkitkan pemikiran para peserta yang ada termasuk saya, yaitu Kenapa Potensi Banjar Serasan Tidak Dapat ditemui GOOGLE ?

Senin, 05 Juni 2023

Emak-emak Hebat Pencetak Generasi Yang Bermanfaat

23.58 0 Comments

 Bergelar seorang IBU tidaklah gampang. Karena sosok itulah yang memiliki tanggung jawa besar dalam menentukan generasi  hebat dimasa mendatang. Dengan sistem sekuler yang diterapkan pada masa ini yang memisahkan agama dengan kehidupan, menjadikan tantangan dan tanggung jawab itu semakin berat. DI sistem ini yang namanya Perundungan, Narkoba, Pergaulan Bebas, Perjudian, Miras, Pembegalan kerap terjadi bahkan selevel anak Pejabat Tinggi Negara bisa melakukan hal itu ? Ingat kan bun kasus Penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat dari Dirjen Pajak ? Padahal kalau mau dilihat dari segi ekonomi kurang apa coba ? dan Bun....sadar gak sih, Kalau kita sekarang sedang dijajah yang namanya sistem SEKULER KAPITALIS itu ? Duuuuh berat juga ya bahasanya ? Makhluk apakah itu ? Gini nih bun, sekuler itu memisahkan antara aturan agama dengan kehidupan, kapitalis itu bun orientasinya materi gak pandang halal dan haramnya yang penting untung aja yang gede pdahal di dalam Islam ada etika kan dalam bermuamalah. Nah dua makhluk itu bukanlah berasal dari negeri tercinta kita ini tetapi bawaan dari barat sono, dulu jaman SMA ada ne bun belajar ini yang jurusan IPS atau SMK Jurusan Akutansi dan sejenisnya lah pasti tahu.....Semenjak 2 makhluk ini masuk ke Indonesia tatanan kehidupan kita kacau balau bun, terutama yang menjadi korban adalah generasi penerus kita. Lewat apa bun ? Buaanyak, belonggok longgok kate orang Pontianak bilang.

Ne bun saya bisikin ya, Sekuler Kapitalis menyerang generasi penerus yang kita cintai ini bisa lewat Sistem Pendidikan. Kok bisa? bisa bun,sistem pendidikan kita cenderung pada prinsip materialisme yaitu FOKUS menjadi PENCARI KERJA sehingga wajar jika kini tidak sedikit di antara kaum pemuda yang hanya fokus pada capaian individu, hanya mengejar eksistensi diri dan kumpulan materi saja bun, bahkan mengbaikan adab, padahal adab sebelum berilmu itu penting ya bun. Susah bun mau cari sekolah buat anak-anak kita yang ngedepanin adab baru ilmu.

Para pemuda kita bun sengaja disibukkan dengan perkara-perkara dunia, lupa akan peran mereka sebagai agen perubahan yang sebenarnya. Belum lagi arus liberaliasi melalui 5F bun, yaitu fun, food, fashion, film, faith dan 1S ‘sing’ yang juga begitu deras diaruskan, semakin membuat generasi kita terlena.

Peran pemuda telah terdistorsi. Orientasi hidup mereka saat ini diarahkan pada kehidupan yang materialistis, sekuler dan liberal. Mereka berlomba-lomba untuk mengejar kebahagian materi tanpa mengindahkan aturan agama. Sehingga muncullah para pemuda labil dan alay, yang tidak memiliki standar jelas dalam pengambilan keputusan hidupnya, banyak kan bun pemuda-pemuda viral karena keanehan hidupnya. Yang jauuuuuuh sekali dari kata Pemuda Tangguh. Dampaknya pun bermunculan, dari meningkatnya kasus bunuh diri, penggunaan narkoba, seks bebas, perjudian, perundungan  dan beragam tindak kriminal lainnya sebagi dampak dari pemikiran pemuda yang telah rusak itu.

Ada lagi bun, Sistem Sekuler Kapitalis menyerang generasi penerus melalui Kebijakan yang Pemerintah buat, contohnya ne bun,aplikasi tik tok pernah diblokir di Indonesia oleh Kominfo kemudian dibuka kembali setelah petinggi tik tok dari China mendatangi Menteri Kominfo Rudiantara, alhasil, saat ini banyak generasi penerus menghabiskan waktunya di platform tsb. Ada lagi aplikasi-aplikasi judi online, banyak pemuda kita yang jadi pemalas hanya menggantungkan hidupnya dari judi online tsb. Ampuuuuuun deh bun, bagaimana negara ini kedepannya kalau pemudanya lahir dengan seonggok pemikiran yang rusak. Sistem sekuler kapitalis telah dengan nyata tidak bisa membentuk generasi yang berkualitas.

Bun, kita sebagai perisai pertama di rumah hendaknya jangan terlena dengan apa yang sedang kita jalani sekarang, sibuk memasak, mengurus anak dan suami, mengurus dagangan kita bagi yang sedang menjalaninya like me bun....saya jualan online tapi terus ngingatin diri spaya jangan terlena dengan rutinitas ini. Bersyukur memiliki teman2 yang selalu ngajakin sharing dan Saling bagi info. Pentingkah Bun ? Penting banget....dunia anak2 kita sekarang lebih banyak dikendalikan oleh gadget, lengah saja kita mengawasinya kita akan ketinggalan jauuuuuh bun. Lebih pintaran mereka dibandingkan kita kalau soal penguasaan gadget. Makanya kita harus ikut style mereka sekarang. Ibu itu harus pintar segala-galanya bun. Ibu itu harus sehe menggali ilmu supaya generasi yang dicetaknya menjadi generasi cerdas penuh manfaat. Mereka akan copy paste kita bun....dari bicara, bertindak, berfikir sampai kepada mengambil keputusan. Betapa pentingnya mencontohkan mereka hal-hal yang positif. Bun, betapa benarnya kalimat bijak ini “ Orang Tua Yang Pura-pura Sholeh akan menjadikan anak-anak yang juga pura-pura sholeh “.

Saya yakin banget, Setiap bunda pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan tidak ingin anaknya terjerumus dalam kerusakan. Melarang mereka untuk tidak bergaul dengan dunia luar bukan pula solusinya, karena mereka akan jadi pribadi yang introvert tidak pandai bersosialisasi. Melarang mereka untuk tidak mengikuti arus teknoligi saat ini juga gak mungkin sedangkan dunia sekarang dipegang dalam satu genggaman. Stres gak bun ? Trus ada gak solusinya ? Tenang bun, jangan stres mikirin anak-anak kita. Mereka adalah amanah dari Allah yang harus kita rawat dan jaga betul. Sesungguhnya Islam mempunyai solusi yang hakiki bagi kerusakan yang terjadi saat ini bun. Islam bukanlah sekedar agama yang mengatur masalah ibadah saja. Namun Islam juga sebagai Ideologi dengan seperangkat aturannya. Islam memberikan gambaran bahwa generasi yang berkualitas adalah generasi yang memiliki keimanan yang kuat. Dari keimanan tersebut mendorong untuk mengkaji sebuah ilmu dan mengembangkannya menjadi teknologi yang bermanfaat bagi umat. Untuk membentuk generasi yang berkualitas seperti ini tentu memerlukan peran seorang ibu yang cerdas. Cerdas yang dimaksud dalam Islam adalah seseorang yang orientasi hidupnya tidak sekedar mengejar sukses dunia namun juga sukses akhirat. Sehingga seorang ibu cerdas tidak hanya mengarahkan anaknya untuk sukses secara dunia atau pintar secara akademis. Namun juga mampu membentuk putra-putrinya untuk memiliki keimanan yang kuat. Karena mereka sadar suatu saat nanti akan dihisab di akhirat.

Ne bun ada gambaran ibu cerdas yang mencetak generasi berkualitas yang saya ambil dari websitenya muslimahtimes.com, yuk bun kita belajar sama-sama :

1. Memiliki keimanan dan kepribadian Islam. 

Dengan keimanan yang kokoh, maka seorang ibu akan mendidik putra-putrinya sejak dini dengan pendidikan Islam. Mengajarkan dibalik adanya alam semesta, dunia dan kehidupan ini ada Al-khaliq (sang Pencipta) dan al-mudabbir (sang pengatur) kepada anak-anak. Dengan demikian seiring berjalannya waktu anak-anak akan memahami hakikat tujuan hidup. Seorang ibu cerdas juga akan berkepribadian Islam dan hal ini akan di contoh oleh anak-anaknya. Sebagai contoh ketika bertindak dalam kehidupan sehari-hari, seorang ibu cerdas akan menyelesaikannya dengan pola pikir dan pola sikap yang Islami sesuai dengan keimanan yang dimilikinya. Hal ini dilakukan oleh seorang ibu yang memahami bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt. Maka tugas seorang ibu adalah mengarahkan anak-anaknya untuk tunduk pada aturan sang Pencipta.

 

2. Memiliki kesadaran untuk mengarahkan anaknya sebagai aset yang berguna untuk umat.


Seorang ibu cerdas tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dalam mendidik anak. Artinya seorang ibu tidak hanya berfikir bahwa kesuksesan mendidik anak dinilai dari suksesnya kehidupan anak dalam mencukupi kebutuhan hidupnya dan bisa merawat orang tuanya di masa senja. Ibu cerdas tidak akan mendidik seperti itu saja namun jauh lebih besar dari pada hanya demikian, dengan mengarahkan anak agar mampu melakukan amar makruf nahiy munkar di tengah-tengah masyarakat dan berjuang agar hukum Allah ditegakkan dalam masyarakat.

 


3. Memiliki pengetahuan dan penguasaan tentang konsep pendidikan anak.

Seorang ibu cerdas tidak hanya sekedar memberi makan agar anaknya tumbuh dan berkembang. Akan tetapi seorang ibu cerdas memiliki pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, cara mengolah potensi anak agar bermanfaat karena setiap anak punya potensi yang tidak sama, serta memahami kondisi anak-anak mereka secara fisik maupun naluri.

 

Waah, gak mudah ya bun untuk bisa merealisasikan hal tersebut di atas. Tapi bun, walaupun susah kita harus tetap berusaha untuk teruuuus belajar dan jangan hanya berdiam diri saja. Kita harus membina diri kita, membina agar menjadi seorang ibu dan emak yang hebat. Marilah bersama bun mengkaji Islam agar anak-anak kita suatu saat nanti akan bermanfaat dalam membangun sebuah peradaban yang mulia, dan peradaban itu adalah peradaban Islam yang akan membawa rahmatan lil’alamiin. InsyaAllah bun ya.....

Jumat, 05 Juni 2020

SDIT Insantama Pencetak Pemimpin dan Pemikir Masa Depan

21.40 0 Comments

Hampir Tiga tahun yang lalu, tepatnya Bulan Juni 2017 saya memutuskan untuk memilih sekolah Islam terpadu buat anakku yang sulung Kak Zaza. Tepatnya di SDIT Insantama Pontianak yang merupakan cabang dari Insantama Bogor. Bukan tanpa alasan memilih sekolah ini setelah ada beberapa alternatif yang ditawarkan oleh suami dan juga keluarga besarku. Bersama si sulung yang saat itu baru berusia 6 tahun 10 bulan browsing tentang SDIT Insantama, dan juga setelah mendapatkan referensi dari seorang mentor yaitu kak Yeni akhirnya kami menemukannya baik dari Youtube maupun dari Sosial Media lainnya. kak zaza semakin tertarik untuk sekolah disini. Ketertarikannya karena metode belajarnya sangat menarik, konsepjoyfull learning ditemukan di sekolah ini. Selain itu, nilai-nilai agama juga menjadi point penting dalam pengajarannya yang diimplementasikan dalam kurikulum sekolah. Penting bagi saya dan suami untuk memberikan penddikan yang berkualitas untuk anak-anak terutama pendidikan agama. Pendidikan agama yang tidak hanya tertuang dalam sylabus dan RPP saja, tetapi menjadi pedoman dan teraktualsasi dalam diri anak-anak nanti.

Alahmdulillah, hari ini saya beserta suami sudah menerima hasilnya. Perlahan serta istiqomah, perubahan Zaza semakin baik. Yang awalnya tidak banyak hapalan, sekarang hapalan semakian banyak dan semakin rajin menghapal, tidak hanya itu Zaza juga belajar terjemahannya serta sangat mencintai Al Qur'an. Pernah suatu kali, Zaza mengaji surah-surah pendek di Juz 30, saking fokusnya,adiknya yang paling kecil " Nae" yg berumur 1 tahun, menarik selembar dari Al qur'an karena ingin melihat apa yang kakaknya baca dan akhirnya robek sedikit. Serta merta Zaza langsung menangis tersedu-sedu, karena takut Allah marah karena tidak menjaga Al-Qur'an dengan baik. Dengan sekuat tenaga saya meredakan tangisannya, dengan menjelaskan, kalau adiknya tidak sengaja karena belum mengerti, dan Kak Zaza juga tidak salah karena kakak lagi fokus membaca Al-Qur'an. Agak lama dia menangis dan mereda tangisannya dengan mendekap Al-Qur'an tersebut dan bilang, " Ya Allah, InsyaAllah,Zaza bejanji akan selalu menjaga dan membaca Al-Qur'an ini sampai kakak menjadi hafizah ". Saya yang mendengarnya, tersenyum dan mengaamiinkan perkataannya. MasyaAllah, saya sangat terharu terhadap kejadian itu.Anak permpuanku tumbuh dengan mencintai Al-Qur'an.

Untuk urusan sholat lima waktu, sudah tidak susah lagi menyuruhnya. Kak Zaza sudah tumbuh kesadaran bahwa sholat lima waktu itu hukumnya wajib dan merupakan dosa besar kalau ditinggalkan. Walaupun kadang harus diingatkan dulu kalau sudah waktu sholat. Tapi sudah tidak ada penolakan atau kata-kata " Ntar lok mi ". Insya Allah untuk ibadah wajib kak Zaza sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Banyak sekali perubahan-perubahan baik yang terjadi pada diri Zaza semenjak sekolah di Insantama. Untuk itulah ditahun kedua kemarin, kami memasukkan kembali anak kami yang no 2 yaitu Zizi. Zizi juga kami beri kesempatan saat itu untuk memilih sekolah. Karena saat TK banyak sekali teman sekelasnya yang bersekolah di SD Negeri dekat rumah kami termasuk kawan dekatnya. Abinya juga mengajak sekolah ditempat Abinya mengajar. Zizi tetap memilih Insantama ikut kakaknya. Saya mengatakan, konskensinya adalah dek Zizi tidak akan banyak dapat teman bermain ya di sekolah, karena siswanya masih sedkit beda dengan sekolah yang teman dek Zizi masuki. Saya mengatakan itu, karena Zizi typical orang yang suka bergaul dan bermain, dia suka keramaian beda dengan Kak Zaza  yang lebih suka sendiri atau mencari kesibukan sendiri daripada keramaian. Zizi tetap keukeh dengan pendiriannya tetap memilih Insantama. 

Perubahan demi perubahan yangn amazing terjadi pada pribadi anak-anak kami. Zizi yang kritis selalu memprotes setiap prilaku yang bertentangan dengan agama. Zizi memang frontal,dia akan akan blak-blakan mengatakan sesuatu yang menurut pandangan dan pemahamannya itu tidak baik dan dilarang agama. Pernah suatu hari, Kakak sepupunya main seharian di rumah karena rumahnya memang berdekatan dengan rumah kami. Saat waktu sholat tiba, Zaza dan Zizi sholat tapi sepupunya tidak sholat. Selalu di ajak tetapi selalu ditolak dengan banyak alasan. Zizi yang merasa geram, langsung bilang, " kakak tahu dak, amalan yang pertama kali dihisab di akhirat kelak adalah sholat, meninggalkan sholat dosa besar, dosa besar tidak diampunkan Allah kalau tidak bertaubat, Kalau main di Rumah zizi harus sholat ". Kakaknya menjawab, banyak sekali peraturan di rumah ini. Dan akhirnya mereka berdepat panjang,yang ujung-ujungnya kakak sepupunya memilih pulang. Pernah juga,Zizi membantah perkataan neneknya yang sering melarang sesuatu tapi tanpa dasar, dan Zizi bilang apakah ada dalilnya dalam Al Qur'andan dicontohkan oleh Rasulullah ? Semua kejadian-kejadian itu membuatku terkagum-kagum, betapa hebatnya sekolah Insantama telah menanamkan pemahaman Islam kepada anak-anakku. 

Guru-guru yang kreatif serta sabar dalam mendidik dan membina mereka sehingga tumbuh menjadi anak-anak yang sholeha juga berperan besar.  Para guru dengan lemah lembut namun bijaksana memberikan contoh yang membentuk karakter anak-anak jadi juga lebih lemah lembut. Mereka keras dalam perkara yang dilarang agama dan lembut dalam menjalankan semua syari'at. Anak-anakku adalah investasi akhirat dan menjadi jembatan menuju Surganya  Allah dan semoga kelak mereka menjadi penyejuk untuk orang-orang yang ada disekitar mereka. Aamiin Alahumma aamiin

Minggu, 14 Oktober 2018

Panggil dia Ainun dan Bu Yanti, Aktivis lingkungan yang progresif dari Kota Pontianak

21.14 0 Comments


Alhamdulillahirabbil alamiin,

Buku yang kutunggu-tunggu hampir 5 bulan ini akhirnya sudah selesai di garap di percetakkan. Buku yang diberi nama Srikandi Tangguh ini garapan dari 13 orang penulis berasal dari Kalimantan Barat dan dari beberapa kota lain yang memiliki keinginan yang sama untuk menulis tentang sosok-sosok perempuan yang sangat inspiratif dalam memberikan sumbangsihnya untuk lingkungan. 13 Orang penulis tersebut adalah :




1. Ida Nurfitriana
2. Elyza Arief
3. Tinie Hanayu
4. Julia Haskari
5. Rika Kartika Sari
6. Alin Tersiana
7. Ida Jumiati
8. Masruraini
9. Endah Purwatiningsih
10. Khadijah
11. desy Khairani
12. Mila Famila
13. Nelly Kurnia

Beberapa diantara penulis di atas sangat saya kenal dan kami akrab sekali apalagi yang berhubungan dengan blog dan peulisan. Kami adalah para emak-emak yang menginginkan sejarah kami nantinya dibaca dan diketahui oleh anak dan cucu kami lewat tulisan-tulisan ini. Let see...Kak Elyza Arief yang tulisan-tulisan kece  beliau seputar Dapur dan masak-memasak dapat dilihat dan dibaca di blog dapurbundaelyza.com. Dijamin saat dan setelah membacanya akan berkeinginan untuk mencoba resep masakan beliau. Soal hasil, InsyaAllah uenaak tenant.  

Ada juga kak Mila Famila, yang gentol nulis tentang Halal Food Indonesia bil khusus tentang halal food Pontianak. Bisa tongkrongin blog beliau di http://milafamila.blogspot.com/, sepertinya blog beliau lagi dalam renovasi ni....

Trus ada adik kita Khadijah, seorang pengusaha muda lulusan pesantrean dari Pulau Jawa yang lagi merintis usahanya lewat SPA Muslimah, bisa pantau blog pribadinya di https://khadijahism.blogspot.com/ atau lirik-lirik SPA Muslimahnya di http://aurakhadijah.com/

Ok, balik lagi ke Buku Srikandi Tangguh. 

Buku ini mengangkat tentang pesona-pesona perempuan yang dibalik kelembutannya dan keanggunannya terselip perjuangan-perjuangan inspiraitf yang patut dicontoh dan disyukuri. Karena kegigihan mereka dalam memperhatkan lingkungan. 

Saya sendiri mengangkat 2 Profil perempuan yang sangat saya kagumi atas kerja kersanya dalam membantu pemerintah memberikan solusi terhadap masalah sampah dan masalah sosial.

Perempuan pertama saya mengangkat tentang profil Ibu Zulkardianti. Orang Pontianak bahkan orang di luar Pontianak pasti akrab dengan nama ini. Lebih spesifik Bu Yanti Bank Sampah Rosella, kenal khaan ?  

Profil yang ke dua, yaitu AINUN, nah kalau yang ini siapa yang tak kenal ? Ainun dari Kampung Beting. Generasi Muda yang mampu membuktikan kalau Beting sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Red Zone untuk kawasan ini sedikit demi sedikit pasti akan hilang dengan sendirinya. Pandangan negatif tengan kawasan ini juga akan berganti dengan beribu prestasi dari anak-anak Beting itu sendiri. Ada Ainun di situ yang cukup keras berjuang tentunya bersama rekan-rekannya yang lain  hingga akhirnya kawasan ini di llirik Pemerintah menjadi kawasan unggulan wisata. Ada Rumah Batik juga disitu sekarang. 

Penasaran dengan ceritanya, yuuk baca dan PO buku kami " Srikandi Tangguh " ke no WA 081349613900.

Minggu, 13 Mei 2018

Pendidikan Itu Tanggungjawab Siapa ?

00.35 0 Comments

pendidikan itu tanggungjawab siapa ?
bagaimana membiayainya ? 
dari mana sumber dananya ? 
kemana saja dibelanjakan ? 
dan apa hasilnya ?
Apakah pendidikan di daerah merupakan tanggungjawab Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah? 
Dalam bentuk apa masyarakat dapat berpartisipasi?

Inilah daftar panjang pertayaan kita semua tentang potret pendidikan di Negeri ini dan semuanya harus kita temuka solusinya.

Kita baca data berikut ini :

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina


Penelitian ini dilakukan di 14 negara secara random, yakni Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili.

Penelitian ini dipublikasikan dalam 'International Seminar and Report Launch' di Hotel Santika, Jalan Pintu 1 TMII, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017), dengan mengangkat tema 'Bridging The Gap Between Education Policy and Implementation'. 



Berikut urutan peringkat kualitas pendidikan berdasarkan RTEI:

1. Inggris : 87%
2. Kanada : 85%
3. Australia : 83%
4. Filipina : 81%
5. Ethiopia : 79%
6. Korea Selatan : 79%
7. Indonesia : 77%
8. Nigeria : 77%
9. Honduras : 77%
10. Palestina : 76%
11. Tanzania : 73% 


Pendidikan di Indonesia mengalami akselerasi merosot tajam dalam lima (terutama tiga) dekade terakhir dibanding negara lain. Lalu apa yang harus dilakukan oleh Negara dan pemerintah? Salah satu tujuan negara yang tertuang dalam UUD 1945 bahwa “…mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….”. hal ini berarti Negara diharuskan terlibat penuh dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Ukuran keberhasilan pendidikan di setiap negara khususnya Indonesia ialah sejauh mana pendidikan nasional yang digeliatkan merupakan usaha yang relevan di tinjau dari amanah konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejauh mana pendidikan mendatangkan kesejahteraan bagi bangsa. Sejauh mana pendidikan berhasil membangun sebuah bangsa yang bermartabat, kokoh dan maju. Pendidikan merupakan aspek paling penting pada sebuah peradaban bangsa. Dengan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter dapat dipastikan sebuah bangsa dapat mengoptimalkan pembangunannya.
Dari data Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau Education For All di Indonesia menurun. Jika pada 2010 lalu Indonesia berada di peringkat 65, tahun 2011 merosot ke peringkat 69. Gambaran singkat mengesankan bahwa pendidikan di Indonesia sangat tertinggal jauh di bawah Malaysia apalagi Jepang. Meski Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), dan Laos (109). Banyak hal yang menyebabkan kondisi pendidikan di Indonesia terpuruk seperti ini. Sistem pendidikan di Indonesia yang tidak stabil, anggaran pendidikan yang kurang tepat sasaran, kualitas sumber daya pengajar yang kurang diperhatikan, serta Infrastuktur pendidikan yang belum memadai menjadi penyebab selanjutnya.
Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa, ditangan para pemuda (mahasiswa)-lah masa depan sebuah bangsa ,mahasiswa dituntut untuk mampu meningkatkan pemahaman dan kompetensinya, dan ikut serta dalam mengatasi keterpurukan yang tengah dialami bangsa ini. Mahasiswa diharapkan lebih peka dalam menanggapi masalah seputar pendidikan, karena pada hakikatnya mahasiswa adalah jembatan intelektualisme dari pemahaman komsep pada tatanan realitas. Oleh karena itu mahasiswa harus memiliki kontribusi terhadap mutu pendidikan bangsa. Apa aja yang harus dilakukan mahasiswa?
1. Pengembangan Potensi Diri
Sebagai bentuk kesadaran akan hakikat pendidikan yang mendasar. Mahasiswa diharapkan mengembangkan kemampuan dirinya sehingga menjadi sebuah sumber kekayaan intelektual yang akan berguna bagi kemajuan diri dan lingkungannya.
2. Melakukan Control Kebijakan Pemerintah
Khususnya kebijakan mengeenai penentuan arah dan karakteristik pendidikan bangsa. Agar tercipta peningkatan pendidikan yang berkarakter sesuai dengan pancasila.
3. Memenuhi Kebutuhan Akan Perbaikan System Pendidikan Nasional

Mahasisa harus mampu menjawab dan mencari solusi atas kebutuhan-kebutuhan akan system pendidikan di Indonesia. Mahasiswa adalah agen of change (agen pengubah), agen pembelajar. Kampus adalah sebuah sumber yang menjadi muara tempat menimba ilmu membutuhkan dua bahan dasar utama; mahasiswa dan sistem . Potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa merupakan ‘amunisi mutakhir’ dalam pemberantasan problematika yang ada dalam masyarakat terutama dalam lingkup pendidikannya. Mereka yang sudah tercerahkan dari dunia kampus harus melakukan pencerahan kembali kepada masyarakat yang mana dengan segala keterbatasannya. Mahasiswa dapat memberi bekal kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan pentingnya pendidikan yang berkarakter kepada anak-anak yang diajarkan sejak usia dini. Sehingga peran mahasiswa di sini dapat mengubah tatanan pendidikan ke arah yang lebih baik, yaitu pendidikan yang berkarakter. Sesuai dengan Hadits “ Inna Fii Yaadi Subban Amrul Ummah “ yang artinya ditangan pemuda (mahasiswa) lah masa depan sebuah bangsa. ( diolah dari beberapa sumber )

Jumat, 11 Mei 2018

PPSW BORNEO INGIN PUKM MEMILIKI TOKO VIRTUAL LEWAT PELATIHAN BLOG

23.39 0 Comments




























Sebagaiamana diketahui bahwa UKM di Indonesia pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 56 juta usaha. Dari jutaan UKM yang telah merayapi dunia kerja di Indonesia, terdapat 107 juta manusia yang telah menggantungkan hidupnya pada UKM tersebut. Melalui UKM ini masyarakat Indonesia dituntut untuk lebih kreatif. Kreatif dalam menciptakan produk hingga memasarkan produk. Banyak Pelaku UKM yang bisa berinovasi dalam menciptakan produk namun sedikit sekali yang berhasil dalam memasarkan produknya. Inilah yang menjadi persoalan besar bagi PUKM khususnya perempuan-perempuan yang minim modal.

Sekarang sudah memasuki dunia Digital. Tak sedikit orang yang kemudian bertransfomasi menjadi manusia yang syarat dengan teknologi. Hampir tak ada sekat untuk menjelajahi dunia ini. Dalam hitungan detik kita bisa mengirim pesan ke penjuru dunia sekalipun, membeli pakaian, sembako, barang elektronik sampai pesan makanan pun akhirnya sekarang sudah melalui digital. Inilah teknologi, yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita dekati agar tak tergerus dan tertinggal banyak hal.
Peran sosial media sangat besar saat ini dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari sebagai tempat curhat tak jelas sampai kepada penjualan online. Inilah kesempatan yang harus digunakan sebaik mungkin bagi Pelaku Usaha sebagai sarana mengiklankan produknya. 
Demikian juga yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat PPSW BORNEO yang memiliki binaan Perempuan-perempuan pelaku usaha kecil menengah di beberapa Kabupate dan Kota. Untuk meningkatkan kemampuan binaannya dalam UMKM, PPSW BORNEO menghelat suatu kegiatan Pelatihan Kualitas Produk PUKM Makanan dan Kerajinan pada tanggal 10 dann 11 Mei 2018 di RM.Beringin. Kegiatan selama 2 hari ini diisi dengan kegiatan-kegiatan yang dibutuhka oleh para PUKM tersebut. Salah satunya adalah Materi tentang Strategi Pemasaran Produk PUKM Produk Makanan dan Kerajinan Secara Online di Media Sosial.
REST memiliki kesempatan untuk mengisi pada materi ini dengan melatih ibu-ibu yang hadir pada saat itu utuk membuat Blog yang nantinya Blog tersebut akan digunakan sebagai Toko Virtual mereka. Pelatihan ini tentunya tidak cukup hanya 3 jam saja dan 1 kali pertemuan. Setelah pelatihan ini, ibu-ibu akan medapatkan bimbingan teknis dari REST dalam mengelola BLOG tersebut agar sesuai dengan harapan setiap sabtu jam 14.00 di Balai Kopi Muzzaki.
Ibu-ibu mengikuti dengan sangat antusias. Walaupun harus pelan-pelan namun akhirnya beberapa BLOG jadi. Waktu 3 jam itu hanya cukup untuk megajarkan cara membuat dan memperkenalkan beberapa fitur yang ada didalamnya saja. Untuk proses editing akan dilakukan di bimbingan teknis nanti.
Semangat ya Ibu-ibu ! Belajar sepanjang hayat....

Aspek-Aspek Geostrategi Kepulauan Maya-Karimata

22.35 0 Comments
Aspek-Aspek Geostrategi Kepulauan Maya-Karimata
Kekuatan laut Kepulauan Maya-Karimata memberikan nilai penting kawasan ini dalam geostrategi. Cakupan geostrategi tersebut meliputi aspek politik, ekonomi, budaya dan pertahanan militer yang saling terkait dalam kerangka sistemik. Oleh karena itu, pembahasan mengenai satu aspek akan selalu terkait dengan aspek-aspek lainnya. Sebagai contoh strategi pembangunan ekonomi akan melibatkan kebijakan politik dalam penerapan pemotongan pajak. Kebijakan militer pun dilakukan demi keamanan kawasan, atau menjaga sumber daya yang menjadi komoditi. Interaksi dalam ekonomi baik regional maupun internasional juga berdampak pada komunikasi lintas budaya. Alhasil, pertumbuhan mode budaya baru menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Aspek ekonomi
Kepulauan Maya-Karimata berada dalam kawasan strategis perdagangan dan pelayaran baik lokal, regional, maupun internasional. Pengalaman sejarah dan budaya maritim menunjukkan bahwa penduduk di kepulauan ini sudah mampu memanfaatkan kekuatan laut yang dimilikinya. Kepulauan Maya-Karimata sudah masuk dalam jaringan perdagangan dan pelayaran internasional sejak abad ke-10. Beberapa fragmen keramik dari abad ke-10 banyak ditemukan di Pulau Maya dan Meledang. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi dengan Cina sudah mulai terjalin. Pulau Karimata juga telah termaktub dalam catatan Shi Bi (Sejarah Dinasti Yuan) yang menceritakan pelayaran menuju Jawa yang melewati Laut Cina Selatan (Groneveldt, 2009:36).
Catatan selanjutnya diperoleh dari Xingcha Shenglan (1436) yang memberikan gambaran topografi Pulau Karimata. Selain itu, diceritakan pula kebiasaan penduduk setempat yang menggunduli kepala dan mengenakan jaket pendek dari kain bambu dan sarung pendek. Penduduk memakan buah-buahan, membuat garam, dari arak dari tebu. Dalam perdagangan penduduk memerdagangkan tempurung penyu dan antelop. Sedangkan, barang yang dibeli dari pedagang yang datang antara lain kain Jawa, manik-manik, kain katun bermotif bunga, beras, dan sebagainya (Groneveldt, 2009:161–162).
Catatan pada 1512–1515 oleh Tome Pires dalam Suma Oriental, menyebutkan adanya Kerajaan Tanjungpura yang berada di barat daya Pulau Kalimantan. Komoditi perdagangan dari Tanjungpura berupa berlian, budak, madu dan lilin. Sedangkan, barang yang di datangkan dari Malaka antara lain, kain yang bernilai di Jawa, bretangi merah dan hitam, serta kain putih dari Bengal. Pada kurun waktu selanjutnya Tanjungpura disebut dengan Sukadana. Belum diketahui proses atau peristiwa pergantian ini. Namun, lokasi baik Tanjungpura maupun Sukadana berada di pesisir selatan Kalimantan (Cortesao, 2015:308–309).
Menjelang 1600, Kepulauan Maya-Karimata diramaikan dengan perdagangan perkakas dari besi khususnya parang dan kapak. Diuraikan dalam beberapa catatan pelaut Eropa, bahwa orang Melayu memakai keris yang bahannya dari Karimata. Bahkan, Banten yang menjadi pusat perdagangan di bagian barat Jawa juga mengimpor biji besi dari Karimata. Pada 1631, orang Belanda juga membeli hampir sepuluh ribu kampak dan parang dan delapan ribu pada 1637 (Reid, 2011:126). Selama penjajakan arkeologis dilakukan di Pulau Karimata belum didapatkan sisa-sisa peleburan besi. Kendati demikian, keberadaan Pulau Kapak dan Pulau Besi yang berada dalam satu gugusan dengan Pulau Karimata memberi kemungkinan adanya tradisi tersebut pada masa lalu.
Gambaran singkat tentang keadaan topografi, sejarah, demografi, maupun perdagangan daerah kepulauan Karimata ditelaah cukup baik oleh P.J. Veth (1854). Mengenai Pulau Karimata Besar diceritakan pada 1822 terdapat Negeri Palembang yang berpenghuni 10 pondok sederhana. Mata pencaharian penduduk di sini terdiri atas menangkap ikan, pengumpul sarang burung walet, lilin, karet, tripang, menempa logam besi. Selanjutnya, diceritakan tentang kondisi Pulau Serutu yang banyak terdapat koral merah. Orang dari Kubu[5] banyak mengambil koral ini untuk campuran sirih. Sedangkan, orang-orang Cina banyak yang membeli koral ini dipakai untuk obat (Veth, 2012:126–128).
Perdagangan dan pelayaran di kepulauan ini selain didukung oleh adanya komoditas juga keberadaan penduduk dan sumber air tawar yang melimpah. Artefak arkeologi yang ditemukan di Kepulauan Maya-Karimata memiliki keterkaitan dengan adanya sumber daya air tawar di masing-masing pulau. Keberadaan air tawar juga mendukung penghunian pulau-pulau tersebut. Kebutuhan logistik khususnya air tawar dalam pelayaran dapat ditemukan di Pulau Serutu, Karimata, Pelapis, Meledang, Maya, Penumbangan dan beberapa pulau lainnya.
Beberapa pulau di Kepulauan Maya-Karimata memiliki teluk-teluk dengan berbagai karakteristik topografi yang dapat digunakan sebagai pelabuhan alam. Pesisir selatan Pulau Serutu cukup layak untuk digunakan pendaratan perahu-perahu dengan ukuran kecil. Hal ini dikarenakan banyaknya terumbu karang yang mendangkalkan pesisir tersebut. Pulau Karimata memiliki teluk yang cukup dalam di Desa Betok yang memungkinkan dilakukan pendaratan kapal dengan ukuran besar. Muara sungai yang berada di sebelah timur Pulau Maya dapat digunakan sebagai pelabuhan alami.
Kepulauan Maya-Karimata memiliki pelabuhan regional yang berada Sukadana. Selain sebagai pusat pemerintahan, Sukadana juga berfungsi sebagai hub port. Posisi pelabuhan ini cukup strategis karena berada di teluk teduh dan chokepoint lokal berupa selat kecil di Teluk Batang. Pelabuhan ini cukup berkembang pada pertengahan 1800-an dengan memuat karet dan intan yang diperoleh dari beberapa daerah kepulauan dan pedalaman. Berikut catatan Veth (2012:123) tentang kapal dari Pontianak yang berlabuh di Sukadana maupun sebaliknya.
Tahun
Dari Sukadana ke Pontianak
Dari Pontianak ke Sukadana
Kapal
Last
Kapal
Last
1843
9
31
6
21
1844
16
230
21
91
1845
16
120
22
138
1846
34
170
24
87
1847
25
139
18
103
1848
28
73
8
19
1849
12
62
7
9
1850
31
92
15
28

Aspek politik
Artefak keagamaan yang berkarakter budaya abad ke-7–8 M di Pulau Maya memberikan asumsi bahwa daerah tersebut sudah memiliki struktur sosial yang mapan. Artefak pertama berupa arca Visnu yang memiliki kesamaan langgam seni dengan arca di Kepulauan Bangka-Belitung. Secara geobudaya kedua kepulauan ini cukup berdekatan, sehingga dalam perkembangan budaya dapat dipastikan akan sangat saling pengaruh. Kedua, artefak relief stupa Buddha yang ditemukan di lokasi yang sama dengan arca Visnu. Buddhisme di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh hegemoni Sriwijaya di Sumatera. Secara politik, hegemoni politik Sriwijaya juga sampai di bagian barat wilayah Jawa. Namun, apakah pengaruh hegemoni tersebut juga meliputi Kepulauan Maya-Karimata yang berada di pintu masuk Laut Jawa? Sejauh ini masih belum ditemukan data-data yang mendukung hal tersebut.
Penyebutan Tanjungpura pertama kali termaktub dalam Negarakrtagama atau kakawin Desa Warnana. Susastra ini ditulis oleh Prapanca pada 1365 M, atau pada era pemeritahan Hayam Wuruk. Dalam teks Negarakrtagama digambarkan perjalanan Hayam Wuruk yang mengunjungi beberapa daerah di bagian timur Kerajaan Majapahit. Prapanca juga memberikan catatan kerajaan-kerajaan vasal Majapahit yang meliputi daerah Sumatera, Kalimantan sampai Maluku. Khusus daerah vasal di Kalimantan, Prapanca menuliskan dalam wirama 14 sebagai berikut.
Kadhangdhangani landha len ri samedhang tirem tan kasah ri sedhu buruneng ri kalka saludhung ri solot pasir, baritwi sawaku muwah ri tabalung tanjung kute, lawan ri malano maka pramuka tang ri tanjung puri.
Terjemahan:
Kadangdangan, Landa, Samedang, dan Tirem tak terlupakan Sedu Bruneng (Brunai) Kalka, Saludung, Solot, dan Pasir, Barito, Sawaku, serta Tabalung, dan Tanjung Kutai, serta Malano yang terkemuka di Tanjungpura (Riana, 2009:98).
Tanjungpura kembali muncul dalam Prasasti Waringin Pitu, atau Sorodokan yang dikeluarkan oleh Wijayaparakramawardhana pada 1474 M. Uraian dalam teks prasasti memberikan gambaran mengenai penetapan daerah Waringin Pitu sebagai perdikan dharma yang bernama Rajakusumapura. Teks prasasti juga menjelaskan kondisi politik dan susunan pemerintahan di Majapahit pada masa Raja Wijayaparakramawardhana. Terkait dengan wilayah Tanjungpura, wilayah ini dipimpin oleh seorang yang bernama Dyah Suragharini (Djafar, 2009:9–11 dan 161).
Pararaton yang disalin pada 1600 M juga menerangkan tentang Tanjungpura. Dalam teks tersebut, Gajah Mada menempatkan Tanjungpura sebagai wilayah yang cukup penting bagi Majapahit. Oleh karena itu, Tanjungpura masuk dalam daftar pedudukan atas Majapahit seperti yang termaktub pada Sumpah Palapa Gajah Mada:
Tan ayun amuktiha phalapa sira Gajah Mada. Lamun uwus kalah nusantara ingsun amuktiyalapa. Lamun alah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Aru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sundha, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.
Terjemahan:
Gajah Mada tidak hendak menikmati kesenangan. “Jika sudah kalah nusantara, aku akan menikmati kesenangan. Jika sudah kalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Aru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, setelah itu aku akan menikmati kesenangan.” (Kriswanto, 2009:106–107).
Pada bagian akhir dari teks Pararaton, disebutkan bahwa berdasarkan silsilah keluarga penguasa Tanjungpura masih memiliki ikatan dengan Tumapel. Berikut uraian dari teks Pararaton.
Bhre Tumapel aputra jalu nejneng ing Wengker, angambil I Bhre Matahun. Aputra manih Bhre Paguhan. Putra lan rabi anom, Bhre Jagaraga kambil denira Bhra Prameswara, tan aputra.
Manih Bhre Tanjung Pura kalap denira Bhre Paguhan, tan aputra. Manih Bhre Pajang kalap denira Bre Pajang kalap denira Bhre Paguhan kalap dho tan aputra.
Terjemahan:
Bre Tumapel memiliki putra laki-laki, bertakhta di Wengker, dan menikahi Bre Metahun; berputra lagi Bre Peguhan; berputra dengan istri muda, yaitu Bre Jagaraga, yang dinikahi oleh Prameswara, tidak memunyai putra;
Berputra lagi Bre Tanjung Pura, yang dinikahi oleh Bre Paguhan, tidak memunyai putra; berputra lagi Bre Pajang yang dinikahi oleh Bre Paguhan sebagai istri kedua, tidak memiliki putra (Kriswanto, 2009:112–113).
Penyebutan Tanjungpura dalam Negarakrtagama mengindikasikan kerajaan ini sudah berdiri sebelum kakawin tersebut ditulis. Uraian dalam Pararaton juga menujukkan terdapat hubungan kekerabatan antara Tanjungpura dengan Tumapel. Strategi politik Gajah Mada untuk menduduki Tanjungpura kiranya didasari oleh pemahaman sejarah Tanjungpura pada masa sebelumnya. Gajah Mada tidak akan memasukkannya dalam daftar pendudukan apabila tidak memiliki peranan strategis. Kondisi politik-ekonomi pada abad ke-14 M di Asia Tenggara juga mendorong penguasaan atas Tanjungpura. Hal ini disebabkan adanya persaingan dalam penguasaan jalur perdagangan dan pelayaran. Dalam geoekonomi, Tanjungpura menduduki lokasi strategis sebagai chokepoints dalam jalur pelayaran dan perdagangan yang masuk atau keluar dari Laut Jawa. Penguasaan atas kerajaan ini akan berimbas pada kemampuan kontrol jalur barat dari perdagangan dan pelayaran baik yang masuk maupun keluar Laut Jawa (Cf. Ptak, 1998: 281).
Dalam geopolitik kerajaan ini selalu mengalami dinamika yang tidak menentu. Mulai dari Majapahit hingga masa sesudahnya tetap menaruh perhatian kepada keberadaan kerajaan ini. Tome Pires (1512–1515) seorang berkebangsaan Portugis juga memiliki penilaian lebih. Dalam catatannya yang telah disusun ulang oleh Armando Cortesao, Pires telah menyebut Tanjungpura sebanyak 11 kali. Terkait dengan peristiwa politik, Tome Pires mennyebutkan bahwa Kerajaan Demak telah menguasai Tanjungpura.
Beliau sangat berkuasa sehingga mampu menaklukkan seluruh wilayah Palembang, Jambi, Kepulauan Monamby dan banyak pulau lainnya. Penaklukkan ini dilakukan dengan cara melawan Tanjungpura dan selanjutnya, semua wilayah tersebut tunduk padanya (Cortesao, 2015:257).
Menjelang awal abad ke-17 M kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara mengalami penurunan hegemoni. Bersamaan dengan hal tersebut muncul pula kerajaan-kerajaan baru di daerah pesisir dengan karakter Islam. Reid (2004:9) menyebut masa ini sebagai modern tahap awal yang ditandai dengan kemajuan perniagaan, teknologi baru militer, pertumbuhan negara baru yang terpusat, dan penyebaran ortodoksi agama-agama kitabiah (scriptual) yang disahkan secara eksternal. Berdasarkan hal tersebut tampaknya wilayah pesisir Kalimantan juga mengalami perkembangan yang serupa. Kerajaan-kerajaan di pesisir bermunculan dengan karakter budaya Islam, seperti Banjar, Kotawaringin, Sukadana, Pontianak, Mempawah dan Sambas.
Pada periode ini Tanjungpura sudah tidak disebut dalam catatan sejarah. Dalam catatan-catatan berikutnya penyebutan wilayah Tanjungpura digantikan dengan Sukadana. Belum dapat diketahui secara pasti apakah Sukadana sama dengan Tanjungpura, atau satu kesatuan politik yang berbeda. Kendati demikian, kedua kekuatan politik tersebut menempati ruang yang sama yaitu di bagian barat daya pesisir Kalimantan. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada waktu itu selain perkembangan sosial budaya global yang tengah terjadi. Pertama, Sukadana merupakan kota sekaligus pelabuhan utama dari Tanjungpura di pesisir barat daya Kalimantan yang pada periode selanjutnya menjadi negara kota. Kedua, ketidakadaan keturunan dari penguasa terakhir Tanjungpura—seperti diceritakan dalam Pararaton—menjadikan kerajaan ini berjalan tanpa kepemimpinan yang sebagaimana mestinya.
Sukadana yang menempati ruang Selat Karimata dengan daerah Kepulauan Maya-Karimata masih menjadi perhatian bagi kerajaan-kerajaan lainnya. Pada 1622 Mataram melakukan penyerangan terhadap wilayah ini dengan motivasi penguasaan sumber komoditi. Sukadana memiliki sumber biji besi yang melimpah di Pulau Karimata. Komoditi ini menjadi primadona dalam perdagangan baik lokal maupun regional. Selain itu, pelabuhan Sukadana merupakan pelabuhan pengumpul berlian yang didapatkan dari daerah pedalaman (Reid, 2011:126; Schrieke, 1960:29–31).
Pada perkembangan barikutnya, Sukadana mengalami pasang surut baik dalam perdagangan maupun politik. Setelah terbebas dari pengaruh Mataram, Sukadana menjadi vasal dari Kesultanan Banjarmasin (Cf. Schrieke, 1960:31). Selanjutnya, pada 1786 Sukadana mengalami keterpurukan akibat serangan dari Sultan Pontianak yang dibantu dengan beberapa kapal VOC. Serangan tersebut telah menghancurkan total Sukadana dan masyarakat yang mendiaminya disebar ke beberapa daerah. Kekosongan Sukadana menjadi peluang bajak laut (lanun) untuk menghuni wilayah ini. Namun, tidak berselang lama Belanda kembali menyerang, dan pada 1822 tempat ini sama sekali ditinggalkan (Veth, 2012:122).
Pada saat menjelang pecah Perang Dunia II, Jepang telah merencanakan tiga fase perang. fase 1: menyerang dan merebut Nanyo yang kaya yaitu daerah selatan yang kaya yaitu Nusantara/koloni Hindia Belanda, Filipina, Malaya dan Burma serta daerah Pasifik. Fase 2: setelah diserang dan direbut diperkuat dan mengisolasi diri dengan mengandalkan posisi benteng pulau-pulau, dan fase ke-3: kekalahan musuh yang diakhiri dengan penjanjian perdamaian. Belanda tentu tahu tentang rencana-rencana ini, dan setelah penyerangan Pearl Harbor pada 8 Desember 1941, pada hari itu juga Belanda mengumumkan menyatakan perang terhadap Jepang. (Onghokham, 2014:222–223).
Aspek Budaya
Selat Karimata dari sisi budaya berperan sangat besar sebagai sarana yang menghubungkan masyarakat yang ada di kawasan ini dan wilayah sekitarnya. Bicara perkembangan kebudayaan bercorak Hindu-Buddha di kawasan Selat Karimata, sudah barang tentu tidak hanya menampilkan data material dari Kepulauan Karimata tersebut. Namun lebih luas lagi harus mengaitkan dengan wilayah lainnya di sekitar selat tersebut, baik Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Khusus Kalimantan, meliputi daerah sepanjang pesisir Barat Kalimantan yang membentang mulai dari Tanjung Datok-Sambas hingga daerah Kendawangan-Ketapang yang berbatasan dengan Kotawaringin. Sumatera sendiri meliputi daerah pesisir Timur Sumatera dan beberapa gugusan kepulauan yang ada, seperti Kepulauan Bangka-Belitung. Sedangkan Jawa yang bersentuhan langsung dengan selat ini yaitu daerah pesisir utara bagian barat. Jejak rekam panjang yang menandakan hubungan tersebut terefleksikan dari tinggalan material keagaamaan dari masa Hindu-Buddha.
Persebaran Budhisme
Indikasi kuat berkembangnya Buddha ditunjukkan dengan temuan relief stupa dan inskripsi yang memuat mantra Buddha. Temuan pertama yaitu temuan relief stupa yang mengandung inskripsi mantra Buddha yang ditemukan di Situs Batu Pahat, tepi Sungai Tekarek, Desa Pahit, Kecamatan Nanga Mahap. Dahulu wilayah ini masuk Kabupaten Sanggau; pada masa sekarang wilayah tersebut menjadi bagian Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Secara geografis lokasi situs tersebut terhubungkan dengan Selat Karimata melalui Sungai Kapuas.
Temuan relief stupa dan inskripsi tersebut pernah di bahas oleh Chhabra dan ditinjau ulang oleh M.M. Sukarto K. Atmodjo dalam tulisannya yang berjudul Beberapa Temuan Prasasti Baru di Indonesia (1994). Dari situs tersebut diketahui bahwa pahatan yang ada pada sebongkah batu besar di tepi Desa Pahit tersebut berisi 7 relief stupa lengkap dengan payungnya yang disebut sebagai chattra, dan satu pahatan sebagai pattra. Dari inskripsi tersebut diketahui bahwa yang dipahatkan di batu tersebut adalah ye-te mantra agama Buddha. Selain berisi japa mantra, prasasti tersebut memuat nama kerajaan yang ada di Barat Daya Kalimantan yang diperkirakan sebagai Wijayapura, seperti tafsir Wolters. Pada sepenggal bagian prasasti tersebut juga memuat angka tahun Caka 578 (Atmodjo, 1994:1–2). Cukup menarik bahwa penanggalan tersebut adalah penanggalan tertua yang ditemukan di Kalimantan hingga saat ini.
Temuan relief stupa juga ditemukan di Situs Gunung Totek, Pulau Maya. Temuan tersebut seperti di singgung di atas, berjumlah 2 relief stupa (Tim Penelitian, 2009 dan 2010). Relief stupa tersebut tidak disertai inskripsi dan angka tahun seperti halnya di Situs Batu Pahit
Temuan inskripsi bercorak Budhisme beserta percandian juga ditemukan di Situs Batujaya, Pantai Utara Jawa Barat. Berdasarkan perbandingan inskripsi yang ada beserta temuan, lainnya menunjukkan kesamaan dengan di Lembah Bujang, Kedah, Malaysia. Dan dapat dipastikan bahwa corak keagamaan yang berkembang adalah agama Buddha Mahayana (Djafar, 2010:118–121). Berbagai temuan artefak Buddha mulai dari Semenanjung Malaysia, Pulau Maya, daratan Kalimantan Bagian Barat, Pantai Utara Jawa Barat, dan sudah barang tentu pesisir Timur Sumatera, menunjukkan begitu kuatnya jaringan keagamaan Buddha pada masa itu yang terhubungkan oleh adanya Selat Karimata.
Persebaran Vaisnawa
Perkembangan agama Hindu, seperti halnya agama Buddha, juga berlangsung di sekitar Selat Karimata ini. Berkembangnya agama Hindu sudah barang tentu didukung oleh adanya kekuasaan dan penduduk yang ada pada saat itu. Yang menarik di sekitar Selat Karimata dan wilayah sekitarnya, yaitu adanya temuan Arca Wisnu. Penemuan arca tersebut tersebar mulai dari Situs Gunung Totek-Pulau Maya (Tim Penelitian, 2009), temuan arca Wisnu di Situs Kota Kapur-Pulau Bangka (Marhaeni, 1997:17–29), dan Arca Wisnu di Cibuaya-Pantai Utara Jawa Barat, yang dikenal sebagai Arca Cibuaya I, II, dan III (Djafar, 2010:1).
Berdasarkan langgam, temuan penyerta, dan karakteristik tempat temuan Arca Wisnu tersebut, menunjukkan dahulunya di kawasan ini ada pemujaan Dewa Wisnu (Herwanto, 2010), atau yang dikenal dengan aliran Vaisnawa. Perkembangan aliran Vaisnawa ini hampir bersamaan dengan perkembangan Buddha Mahayana, yang ada pada masa Tarumanegara dan awal Sriwijaya.
Tradisi melaut era sesudahnya
Tradisi melaut, atau hal-hal yang berkenaan dengan kemaritiman, masih dilakukan oleh masyarakat di sekitar Selat Karimata. Tradisi tersebut antara lain berkenaan dengan tata cara bermukim di pantai, pembuatan kapal dan kemampuan dalam hal menguasai navigasi laut. Masyarakat hingga kini masih berprofesi sebagai nelayan, dengan berbargai tangkapan hasil laut, serta meramaikan perdagangan antar pulau di Selat Karimata.
Berdasarkan pengamatan aktivitas kemaritiman di kepulauan Karimata tersebut digerakkan oleh masyarakat Bugis, Melayu, Madura, Banjar, dan Jawa. Aktivitas perdagangan tradisional dan penangkapan ikan laut di Selat ini bergantung Musim. Pergantian musim berpengaruh terhadap bergeseran penduduk dan aktivitas bermukim di Selat ini. Pergerakan dinamis masyarakat di Selat Karimata ini membawa
Aspek Pertahanan Militer
Kepulauan Maya-Karimata memiliki kekuatan laut yang mumpuni sebagai benteng alam. Kepadatan dan keadaan alami dari pulau-pulau di kepulauan ini memberikan aspek keamanan bagi penghuni pulau. Jumlah pulau yang banyak dan mengelompok menjadi beberapa gugusan membuat selat-selat pemisah antarpulau seperti labirin. Kondisi ini akhirnya memungkinkan daerah kepulauan ini menjadi daerah persembunyian. Didukung pula banyaknya teluk-teluk tertutup oleh bakau dan akses menuju pantai yang tertutup lumpur atau terumbu karang yang dangkal membuat kapal besar tidak bisa mendarat. Selain itu, karakter umum yang dimiliki penduduk kepulauan ini memberi dukungan terhadap sistem pertahanan alami.
Serangan Mongolia atas Jawa pada akhir abad ke-13 yang dicatat dalam Sejarah Dinasti Yuan telah menempatkan daerah kepulauan di Selat Karimata sebagai tempat singgah dalam perjalanan. Catatan Shi Bi, Sejarah Dinasti Yuan Buku 162 yang menyatakan:
Angin bertiup sangat kencang dan lautan begitu bergelombang sehingga kapal terombang-ambing. Para prajurit tidak bisa makan selama berhari-hari. Mereka melewati Samudra Tujuh Pulau (Kepulauan Paracels) dan Long Reef (Macclesfield Bank). Mereka melewati tanah Jiaozhi dan Campa. Pada bulan pertama tahun selanjutnya, mereka tiba di kepulauan Dong Timur (Natuna?), Kepulauan Dong Barat (Anamba?) memasuki Samudra Hindia (?), dan berturut-turut tiba di Pulau Zaitun (?), Karimata, dan Gao-lan (Belitung). Di sana mereka berhenti dan menebang pohon untuk membuat perahu kecil yang akan digunakan memasuki sungai (Groeneveldt, 2009:36)
Berdasarkan catatan tersebut, Groeneveldt (2009:45–46) memberikan analisis bahwa armada Mongol tidak mengikuti jalur biasa yang menyusuri Malaka dan Sumatera. Armada ini menuju Laut Jawa dengan mengambil jalan pintas. Oleh karena itu, cukup sulit untuk mengidentifikasi nama-nama pulau yang telah dilaluinya. Namun, dapat dipastikan bahwa armada ini pasti melewati Selat Karimata dan mencapai Pulau Ge-lan atau Gaolan untuk memerbaiki kapal yang rusak dan membuat perahu kecil.
Uraian Sejarah Dinasti Yuan berikut hasil analisis tersebut di atas tampaknya menguatkan keberadaan prasasti Pasir Cina dan prasasti Pasir Kapal di Pulau Serutu. Pada prasasti Pasir Kapal terdapat frasa Da Yuan Guo (Da dalam google translator diartikan ‘besar’ sedangkan Guo adalah ‘negara’). Istilah Yuan sebagai sinonim dari ‘mahamulia’, ‘asli’, ‘pertama’, dan ‘agung’ muncul pertama kali ketika Kubilai menyatakan dirinya sebagai seorang Khan pengganti Monkhe dari Mongolia. Istilah ini secara resmi digunakan sebagai nama dinasti yang dipimpin oleh Kubilai Khan pada Desember 1271 (Man, 2010:131). Dinasti ini berkiprah dalam kronik sejarah Cina antara 1271–1368 M. Berdasarkan hal tersebut maka Da Yuan Guo dapat diartikan sebagai ‘Dinasti Yuan yang besar’.
Dalam uraian selanjutnya—pada teks yang terbaca—disebutkan pula adanya utusan atau caraka, 500 kapal kecil dan penanggalan tahun ke-30 bulan Januari dan tanggal 18. Teks prasasti tersebut kiranya memerkuat dugaan keberadaan dari armada Mongol yang telah berlabuh di Pulau Serutu. Oleh karena itu, perlu ditinjau lagi toponimi Gao-lan yang diidentifikasi sebagai Pulau Belitung. Disebutkan dalam berita Cina tersebut bahwa di pulau ini mereka menebang kayu untuk membuat kapal kecil. Artinya armada tersebut memerlukan waktu mulai dari menebang kayu sampai membuat kapal bahkan mengisi ulang logistiknya. Dari hal tersebut muncul permasalahan bagaimana menyembunyikan armada ratusan kapal dengan ribuan prajurit tanpa terdeteksi keberadaannya oleh militer Jawa?
Posisi Belitung berada di jalur yang ramai, atau berada pada jalur perniagaan, dan cukup dekat dengan Sumatera. Hal ini akan berdampak terhadap diketahuinya secara langsung keberadaan armada ini oleh militer Jawa mengingat di Sumatera juga telah berlangsung ekspedisi Pamalayu. Kiranya pendaratan tersebut lebih memungkinkan dilakukan di Kepulauan Karimata. Terlebih lagi daerah ini memunyai topografi dan sumber daya alam yang mencukupi sebagai benteng alam. Gugusan pulau-pulau dengan teluk-teluk yang dipenuhi bakau cukup digunakan untuk menyembunyikan armada ini agar tidak terdeteksi oleh musuh. Daerah pegunungan di Pulau Karimata juga mampu mendukung kebutuhan logistik selama ekspedisi.
Pulau Serutu yang berada dalam gugusan Kepulauan Karimata memiliki sumber daya air tawar untuk keperluan logistik. Dalam prasasti Pasir Cina telah dipahatkan dalam tebing batu frasa “Quan Shi” yang berarti ‘air mancur’ dan “Qing” berarti ‘bersih’. Sampai hari ini sumber air tawar tersebut masih digunakan oleh penduduk yang bermukim untuk mencukupi kebutuhan akan air bersih. Sumber daya kayu untuk pembuatan kapal juga disediakan di daerah kepulauan. Salah satu kayu yang sering digunakan oleh penduduk saat ini untuk membuat perahu adalah kayu resak (Vatica, spp).
Pergulatan politik Kepulauan Maya-Karimata pada periode berikutnya memberikan gambaran nilai penting dari geografis wilayah ini. Dalam geoekonomi daerah ini berfungsi sebagai kontrol jalur pelayaran dan perdagangan. Namun, dalam geostrategi militer Kepulauan Maya-Karimata menjadi “pintu benteng” pertahanan untuk memasuki zona Laut Jawa. Pertimbangan tersebut kemungkinan dilakukan baik oleh Gajah Mada maupun Patih Unus untuk menguasai kawasan ini.
Kemerosotan perekonomian dan perpolitikan daerah Kepulauan Maya-Karimata akibat kapitalisme dan imperialime Belanda menjadikan daerah ini tidak lagi diperhatikan oleh Gubernemen Belanda. Oleh karena itu, para bajak laut yang beroperasi di Selat Karimata mengambil alih kepulauan ini sebagai benteng persembunyiannya. Bahkan, Kepulauan Karimata mendapat julukan kepulauan rendezvous (pertemuan kembali) karena berfungsi sebagai tempat berkumpul bajak laut sebelum kekuatan mereka diperairan dipatahkan (Veth, 2012:126). Berikut ini gambaran umum mengenai bajak laut di Pulau Karimata.
Untuk perjalanan perampokan mereka hanya memiliki dua kapal, setiap kapal diisi dengan 2 meriam, dan dengan ini mereka bersama dengan orang laut dari Belitung setiap tahun waktu musim timur, melakukan perjalanan perampokan ke pantai utara Jawa. Kepala mereka, Batin Galang yang dikatakan dilindungi oleh raja-raja Matan dan Simpang…..(Veth, 2012:320).
Di masa kolonialisme Belanda, sebelum penyerangan Pearl Harbor terjadi, sebenarnya Belanda berharap pada 2 negara besar dalam menghadapi ovensif Jepang di kawasan Asia Tenggara, yaitu Inggris dan Amerika Serikat. Bak mendapat ‘pepesan kosong’ sehingga Hindia Belanda seakan berjuang sendiri. Kesepakatan awal, memang kedua negara (Inggris dan Amerika) sepakat bahwa mengenai Asia Tenggara dan Pasifik terhadap ofensif Jepang hanya defensif saja, dan tenaganya akan disimpan untuk menghadapi di Eropa. Belanda akhirnya tidak berharap banyak terhadap peran Inggris dan Amerika. Selanjutnya harapan bertumpu, khususnya pada angkatan lautnya untuk memertahankan Jawa dan Kalimantan yang kaya minyak. Teknologi dan peralatan tempur dan kapal-kapal Belaada yang usang memermudah pihak Jepang menguasainya. Suatu hal yang perlu diingat bahwa, saat itu Belanda menyadari terkait keadaan geografis dan situasi perang, maka tugas-tugas yang berat terletak pada angkatan laut dan angkatan udara. Belanda melengkapi dengan 3 kapal perusak, 6 kapal buru terpedo, 11 kapal selam, disamping membangun lapangan terbang baru dan menyediakan pesawat-pesawat tempur ( Onghokham, 2014:264). Salah satu lapangan terbang yang dibangun adalah lapangan terbang di Singkawang, Kalimantan bagian barat untuk mengawasi Selat Karimata (Onghokham, 2014:266)


Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id