Kamis, 16 Februari 2017

Binatang Sebagai Indonesian Emotions



Di dunia digital seperti dunia maya (internet) para user mengungkapkan perasaan dengan sangat simple dapat menggunakan Smile, tapi negeriku tercinta ini banyak sekali mengungkapkan berbagai emosi dengan kata-kata yang membawa nama-nama binatang.
Mengapa hewan yang tak tahu menahu tentang perasaan manusia dijadikan tanda ungkapan perasaannya ya ? Tak tahulah barangkali bangsa ini memiliki trauma pada binatang, mungkin takut pada binatang karena persaingan atau mungkin karena kita menyerupai binatang itu atau kita-kita kawan dari para binatang atau kita sangat sayang pada binatang. Nah yang ini tanya pada ahli bahasa Indonesia atau tanya Psikiater. Binatang jadi korban ungkapan perasaan itu antara lain Babi, kerbau, ayam, kucing, kura-kura udang, katak, buaya, pelanduk. Gajah, kutu, anjing dll. Ingatkah yang anda pernah dengar makian “b*bi kau !”


Makian yang seperti itu yang paling wajar ditujukan untuk orang yang tidak tahu aturan, rakus, serakah dan orang punya prinsip sek bebas. Perhatikan tingkah laku babi, pertama semua jenis makanan disikatnya (pemakan segalanya), kedua kalau makan mereka berebut tak pernah damai. Ketiga dibidang sex babi itu tak bermartabat, bayangkan bisa-bisanya babi kalau sedang kawin seekor betina digilir beberapa pejantan tanpa protes. Keempat pejantan tidak harus berkelahi memperebutkan betina yang satu tapi malah tertib bergilir. lalu terlahir anak, siapa bapaknya. (sebahagian dari kamu pasti bilang itukan hewan, ya..)

Bagus, itu artinya anda tak mau dimaki dengan kata “b*bi kau” ya kan ???

Pada kebanyakan hewan tega bersimbah darah atau bertaruh nyawa untuk mendapatkan seekor betina yang diinginkan. Makian mengunakan kata Anjing, cocok untuk makian pada orang serakah, rakus, penghianat,  orang yang menakutkan. Perhatikan peribahasa “ bagai menolong anjing kejepit “ artnya penghianat udah ditolong menggigit lagi, Juga lolongan ajing tengah malam hiii.. hii… takkuuuuut. Kemudian ungkapan dalam peri bahasa, Orang itu bagaikan Bunglon artinya orang itu tidak punya pendirian (plin-plan), hal ini sesuai dengan kemampuan ciri-ciri dari bunglon (Camelion Indonesia) yang dapat berubah warna dimanapun dia berada, jika diatas tempat berwarna hitam menghitamlah kulitnya, jika berpindah ketempat putih memutihlah kulitnya, pokoknya warnanya sesuai dimana ia berada.
Untuk menggambarkan orang yang mudah di stir atau dikendalikan orang lain, misalnya orang itu bagai kerbau dicocok hidung. Gambaran orang munafik, bagai musang berbulu domba,
Masih banyak ungkapan perasaan bangsa ini yang belum terakomodir dalam pengungkapan perasaan yang pas dan masih perlu didiskusikan dan di menej biar pas gitu lho serta mempunyai nilai jual, seperti :       

Kambing hitam
Ular berkepala dua
Bagai cacing kepanasan /kena abu
Tikus kantor
Kelinci percobaan
Napsunya seperti kuda troya
Kuda tunggangan
Kekuatan kuda (horse Power)
Buaya darat

Selamat mencoba Indonesian Emotions !
Semoga Indonesia Emotions dapat go internasional dengan symbol-symbolnya. ( Nyindiir )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar